Senin, 28 Juni 2010

KUAT = TIDAK LEMAH PART 5

Aku ingin tidur. Aku lelah sekali. Setiap hari harus seperti ini. aku ingin sekali beristirahat. Mengingat aku tidak mempunyai siapa pun kecuali semangat hidup, lebih baik aku di istirahat kan saja. Aku juga tidak pernah menginginkan penyakit ini, maka dari itu, tolong ambil aku!

Seseorang: jangan bilang seperti itu!

Aku menoleh ditengah rintihan ku. Disana ada min ho yang tertahan tembok transparan. Ia menjulurkan tangannya.

Min ho: pilihlah tangan ku untuk kembali atau kau pergi ke jalan putih didepan mu, itu terserah mu.

Saya: ini jalan apa?

Min ho: jalan yang mengantarkan mu untuk tidur dan beristirahat jika kau memang lelah.

Aku melihat kejalanan yang menyilaukan itu. kata min ho jika aku ikuti jalan itu, aku bisa beristirahat dengan tenang. Aku berjalan menuju jalanan itu.

Min ho: kalau begitu, jangan lupakan aku.

Aku menoleh kembali pada min ho.

Min ho: selamat tidur, kau akan baik-baik saja. Tapi, apa aku boleh meminta sesuatu untuk terakhir kali?

Aku melihat min ho dalam-dalam.

Saya: apa?

Min ho: boleh aku memeluk mu?

Aku mengangguk dan berjalan ke arahnya. Tiba-tiba tembok transparan yang menghalangi perlahan menghilang. Min ho memelukku. Tubuhku menjadi terasa hangat.

Min ho: terima kasih kau bersedia memelukku. Ini berarti kau bersedia kembali untuk sadar.

Aku terbelalak. Aku tidak jadi mati maksud mu? aku melepas pelukkannya dan berlari kearah jalan yang silau itu. tetapi justru sekarang jalanan itu yang dihalangi tembok transparan. Aku menggedor-gedor tembok tersebut tetapi percuma saja tidak mau menghilang. Aku berlutut dan menangis.

Min ho: kau yang memilihku.

Dalam isakan yang deras, aku menghujami min ho dengan makian.

Saya: aku hanya ingin istirahat….huaaaaahuhuhuh, hiks…..aku lelah…aaaah…huhuhuhuaaaaa……

Aku mengusap air mataku dengan lengan ku. Aku merasa sangat terpuruk. Ditambah sejuta kenangan pahit kehidupan yang terbayang jelas di kepala ku. Aku lelah sekali. Aku hanya ingin tidur tetapi ternyata belum bisa. Tiba-tiba min ho berbicara.

Min ho: kau mencintai ku bukan?

Aku masih terus terisak-isak.

Min ho: aku akan mencintaimu disaat kau benar-benar membutuhkan seseorang.

Aku tidak mengindahkan perkataanya. Yang terpikir oleh ku sekarang hanyalah, harus bagaimana lagi sekarang? Aku harus mencari jalan lain.

Min ho: segeralah terbangun. Aku menunggu disamping mu. aku akan menjanjikan mu sesuatu hingga kau semangat untuk menjalani kehidupan mu lagi. Aku mohon kau harus bangun.

Tiba-tiba min ho menghilang berserta tembok transparan yang menghalangi jalan silau itu. aku berlari masuk kedalam jalanan silau itu. aku berharap sekarang aku dapat beristirahat.

To be continued…

Kamis, 24 Juni 2010

KUAT = TIDAK LEMAH PART 4

Aku merem-melek ketika mulai terbangun. Aku bangun perlahan sambil menggaruk-garuk rambut dan menguap selebar-lebarnya. Pandangan ku langsung tertuju kearah kaki ku. Rupanya min ho sedang tertidur pulas. Kaki ku gemetaran. Aduh, aku baru pertama kali ditunggui seperti ini. Terlebih lagi dengan orang yang ku sayang.

Sangking gemetarannya, aku menendang jidat min ho. Ia kaget dan terbangun. Yak, dasar shin ha o’on.

Min ho: ng?

Ia mengucek-ucek matanya. Aku spontan mengelus kepalanya.

Saya: aduuh, maaf kak…eh, min ho…. Maaf maaf…. Tidur lagi saja ya….di ranjangku saja! Lagipula aku sudah bangun…ayo pindah…

Rintih ku agak lebai. Aku benar-benar kalau dia tiba-tiba marah dan mengerang. Tetapi yang terjadi malah sesuatu yang membingungkan. Ia memegang tangan ku dan menggumami sebuah nama. Shan yo. Siapa itu?

Min ho ternyata hanya mengigau. Ia lucu sekali saat mengigau. Dan aku, memang dasar otak jail, aku mengerjai mimpinya.

Saya: min ho, aku senang kita berduaan saja…

Min ho: ng? Aku juga…nyam..nyam..

Jawabnya nyaris tak terdengar. (namanya juga mengigau)

Saya: ng, kriteria wanita yang ingin kau jadikan pendamping itu seperti apa?

Min ho mendengkur, tetapi tetap menjawab.

Min ho: ng? zzz…yang…zzz..sehat…baik…zzz…cantik….zzz….grooook….

Aduh buset, mendengkurnya keterlaluan sekali. Hmm, ternyata tipe nya jauh sekali dengan yang ada pada ku. Haaaah, once again, my dream were too long and high. Fuuh…

Aku turun pelan-pelan dari ranjang ku. Ketika aku menapaki lantai, aku merasakan sakit kepala yang bukan main parahnya. Aku seperti di lempari batu sungai dan kerikil-kerikil tajam. Belum puas penyakit ini menyiksaku, aku dibuat lumpuh tangan dan kaki ku sehingga aku jatuh menabrak meja dan menumpahkan segala benda yang mudah pecah. Badanku tertusuk beling disana-sini. Rasa sakit karena tertusuk masih kalah dengan rasa sakit kepala ku ini. aku mengerang dan memegangi kepala ku. Sakit sekali. Ditengah siksaan itu aku masih sempat berpikir, aku telah mengganggu min ho yang tengah tertidur pulas dan nyenyak. Yah, itulah aku. Aku hidup hanya membuat orang repot, kasihan, dan menahan sakit. Itu sajakah yang bisa aku lakukan, Tuhan? Tidak bisa kah aku berlari kencang? Tidak bisa kah aku menatap dan menantang panasnya matahari dengan senyuman dan kebersamaan? Tidak bisa kah aku mengembalikan nilai matematika ku menjadi 100 seperti dahulu? Tidak bisa kah aku menikah dan melahirkan? Tidak bisa kah aku hidup tenteram sembari menunggu kematian disaat aku tua? Haaaah, doa ku sudah segunung, tetapi tetap lah begini karena ini takdir. Aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika masih kurasakan hangatnya tangan min ho yang tengah mengangkat tubuhku yang kaku dan membawa ku lari lagi entah kemana. Sepertinya rumah sakit lagi.

To be continued…

KUAT = TIDAK LEMAH PART 3

Tuhan selalu mengizinkan aku hidup. Entah apa rencana-Nya. Aku merasa sudah sangat lemah. Dokter memberitahuku bahwa kanker otak yang ku derita memasuki stadium tiga. Tinggal selevel lagi. Stadium empat. Jika aku berhasil memasuki stadium tersebut, tidak akan ada lagi harapan dan hanya tinggal menunggu malaikat untuk mencabut nyawa ku. Ditengah kesakitan ini, aku merasa senang padahal sudah sangat sakit. Aku senang stadium ku masih tiga. Aku masih punya harapan. Setidaknya harapan bisa bersama seseorang yang mulai detik ini sudah ku anggap sebagai cinta pertama ku, min ho.

Dan mataku terbuka. Aku melihat sekeliling. Sepi sekali. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Aah, sepertinya Tuhan sudah mengambil nyawa ku. Bagus lah.

Min ho: SHIN HA! ASTAGA KAU SUDAH SADAR???

Aku terkaget-kaget sampai-sampai ingin pingsan kembali.

Min ho: ya ampun shin haaaa….

Aku melihat min ho hanya menggeleng-geleng sambil memegang jidat. Satu lagi, cih, aku masih hidup.

Min ho: ck, kau membuatku sangat-sungguh-benar2 ketakutan….kau tau…cih, sudahlah… istirahat deh. Aku dan kau akan menginap disini. Kau terlalu payah untuk di bawa jalan….aku tidak akan berbuat macam2, tenang saja.

Di macam-macami juga aku bersedia kok. Hihi.

Setelah itu, aku melihat ia keluar klinik. Sepertinya sedang menelpon.

Tanpa sepengetahuan ku, min ho menghubungi pak han wa.

Min ho: selamat malam, ng…pak, ada pasien mu yang…dia muntah darah. Dia memberitahuku kalau ia sakit usus buntu tetapi…masa usus buntu muntah darah?

Pak han wa: dia memberitahu mu seperti itu?

Min ho: ya. Aku penasaran. Dia tidak menunjukkan gejala2 usus buntu. Apakah aku berikan saja obat usus buntu?....

Pak han wa: jangan. Jangan kau berikan itu. tolong kau buka lemari ku dan lihatlah daftar pasien. Cek namanya dan lihat sendiri apa penyakitnya…

Min ho: namanya shin ha. Jun shin ha. Dia sakit apa pak?

Pak han wa: lihat saja sendiri.

Min ho: tapi pak, kau pasti tau yang…

Pak han wa: lihat saja sana!

Min ho: oh, ng, baiklah. Terima kasih pak dan maaf sudah mengganggu. Selamat malam.

Min ho terlihat mengakhiri panggilan. Kemudian ia masuk dan segera membuka lemari.

Min ho: ng, kau tidur saja. Kalau kau ingin apa-apa, aku ada didekatmu. Ayo, lekas tidur.

Aku merebahkan badanku ke kasur. Sebenarnya aku belum mau tidur sih.

Ketika min ho hendak membuka lemari, aku memanggilnya.

Saya: min ho…

Min ho: kenapa tidak jadi tidur?

Saya: maaf ya…

Min ho: maaf untuk apa?

Saya: pasti aku membuat mu malu tadi di depan orang banyak.

Aku menunduk. Apa-apaan aku ini. orang yang ku sayang malah ku permalukan. Pasti dia berpikir lebih baik tidak jadi ditraktir kalau tau akan begini jadinya. Huh, emang bego, mau gimana lagi?

Min ho: jangan menangis.

Aku menoleh padanya.

Saya: siapa yang menangis?

Min ho: ckck..

Min ho menghampiri ku lalu mengusap pipiku.

Min ho: tidak menangis bagaimana? Deras sekali air mancurnya…

Aku memegang pipi ku. Dan ternyata memang basah. Tapi kayaknya aku tidak menangis deh. Hmm, sudahlah.

Min ho: tidurlah. Eh, ada nomor sekolah mu tidak? Aku akan meminta izin kalau kau sakit.

Saya: mereka sudah pasti tau kok.

Min ho: memang kau sering sakit?

Saya: he? Yah…begitu lah…

Mampus. Seharusnya aku tidak usah banyak omong.

Min ho: kau lapar?

Saya: ah, tidak. Kau kali yang lapar…

Min ho: aku? Aku justru ingin mengeluarkan setengah makanan ku tadi. Fuh, kenyang sekali. Haha.

Aku tersenyum.

Min ho: eh, coba senyum seperti tadi?

Saya: ha? Ah, tidak mau.

Min ho: hei, ayolah. Aku ingin lihat lagi. Satu kali saja…

Saya: aku tidak mau.

Min ho: ayo doong. Senyum mu itu bagus. Ku mohoon… ayo shin ha…

Mukanya memelas. Hadeh, kenapa jadi begini? Aku justru selalu melihat, senyuman ku lah yang paling tidak berkesan ketika diajak berfoto.

Aku menggeleng tetapi ia terus saja memaksa.

Saya: oke. Sekali saja kan?

Min ho: iya, tolonglah….

Ia menempelkan kedua telapak tangannya. Aku melihatnya sangat lucu. Kemudian aku tersenyum. Min ho terlihat kaget dan tanpa di duga, memelukku.

Aku terpaku. Min ho masih memelukku dalam diam. Sekitar satu menit, ia melepaskan pelukannya.

Min ho: maafkan aku. Maaf aku lancang…

Aku mengangguk karena tidak mengerti mengapa ia melakukan itu.

Min ho: kau mirip adikku.

Saya: apa?

Min ho: senyuman mu mirip adikku makanya aku memeluk mu.

Aku meng-oh-kan perkataanya. Tetapi setelah ia memelukku, wajahnya terlihat sedikit sedih.

Saya: ada apa?

Min ho: ah? Tidak apa-apa. ehm, apa kau sudah mengantuk?

Saya: sepertinya iya.

Min ho: yah, tidurlah. Kalau mau apa-apa, panggil aku. Oke?

Saya: ah, iya.

Aku kembali berbaring. Sungguh menyenangkan. Aku tidak pernah bertemu lelaki berwatak baik seperti dia. Seperti bayangan para wanita, saat ini aku merasa seperti suami-istri. Ah, memang bayangan yang menggelikan. Dan klinik ini tempatnya. Tempat dimana aku bisa bertemu dan mengenalnya. Klinik ini sungguh berjasa. Aku akan mengingat ini seumur hidup ku. Aku pun terlelap.

Min ho masih mencari-cari sesuatu. Ia mengutak-atik daftar nama pasien tetap klinik ini. ia mencari namaku.

Min ho: ah, ketemu.

Ia membuka isi biodata ku. Ia membolak-balik isinya dan terhenti pada sebuah kertas. Di kertas tersebut tertulis ‘ Penyakit yang Di Derita’. Ia melihat apa penyakitku. ‘Pasien ini Menderita : Brain Cancer Stadium 4’

Min ho: ya Tuhan..apa-apaan ini?…

To be continued…

Selasa, 22 Juni 2010

KUAT = TIDAK LEMAH PART 2

Aroma ruangan yang tidak asing. Aku terbangun dan melihat sekeliling. Ternyata aku sudah ada di klinik yang biasa ku kunjungi untuk berobat jalan. Seseorang yang terlihat seperti bukan dokter yang biasanya jaga, menghampiri ku. Ia terlihat menyeramkan karena memakai pakaian seperti ingin mengoprasi. Aku menutup mata karena takut.
Dia: boleh di buka ga mata nya?
Aku menggeleng.
Saya: buka dulu penutup mulut nya…
Dia: yak sudah, sekarang buka mata. Aku ingin memeriksa kelopak mata anda.
Aku membuka mata ku. Ya Tuhan, dia seseorang yang selama ini ku tunggu di luar kampus tadi.
Saya: ya Tuhan…
Dia: ada apa? apa kau merasa sakit?
Saya: boleh ku pegang wajah mu…eh, maksudku…apa aku mengenal mu? eh…ng…
Hadeh, stupid tingkat akut. Tentu dia tidak mengenalku. Bertemu hadap-hadapan saja baru kali ini.
Dia: ya, aku mengenal mu. kau yang selalu nangkring dan berdiri panas-panasan di depan kampus kan? Entah kau menunggu siapa. Tetapi, ku lihat setiap kau habis dari kampus ku, kau pasti menuju kemari…
Alamak, aku tidak menyangka dia menjelaskan pada ku sedetail itu. dan aku tak menduga sama sekali bahwa ia ternyata tau diri ku.
Saya: ng, lalu kakak sedang apa disini?
Dia: sedang pkl. Jangan panggil aku kakak, panggil nama saja. Nama ku min ho. Choi min ho. Nama mu?
Oooh, namanya min ho. Beruntung sekali aku hari ini. justru dia sendiri yang memperkenalkan diri pada ku. Hihi.
Saya: ah, saya shin ha. Jun shin ha. Salam kenal. Terima kasih sudah menolongku. Oya, dimana pak han wa? Kau tau beliau kan?
Min ho: tentu saja tau. Dia kan pemilik klinik ini. yaa, karena sudah tua aku sarankan ia beristirahat selama aku pkl disini. Untungnya dia mempercayaiku…
Saya: kalau begitu, jurusan mu itu dokter ya?
Min ho: ya, spesialis kanker. Aku akan menemukan obat yang bisa menyembuhkan penyakit menyebalkan itu…hahaha…
Saya: wah, kau pasti akan menjadi orang hebat kalau berhasil nanti.
Min ho: yah, aku harap begitu. Ngomong-ngomong, obat apa yang ingin kau beli? Boleh ku lihat resepnya?
Saya: ah, sebentar ku ambil di tas….ng, waduh?
Ah sial. Pakai ketinggalan lagi. Ck.
Saya: ng, aku meninggalkannya dirumah….(berbisik) Aduh, bodoh sekali.
Min ho: oh, apa kau ingat nama obatnya?
Saya: ng, sepertinya tidak. Tulisan dokter sih…kayak cacing sih, jadi tidak ke baca…
Min ho: ng, kalau begitu, apa penyakit mu?
Aku tidak ingin orang ini tau. Entah kenapa aku tidak ingin dia tau. Pokoknya tidak boleh tau!
Saya: aku…ng….
Min ho: sakit apa?
Saya: aku….usus buntu….ya…ng, usus buntu…
Min ho: ha? Ng, usus buntu ya? Tetapi kenapa mimisan? Kalau begitu mau ku berikan obatnya? Aku tau sedikit tentang usus buntu…
Saya: heeee, ga usah, ga usah….besok saja lagi. Aku pasti datang kok! Pasti! Hehe…pasti datang, tenang saja…hehehe…
Aduh, pasti aku terlihat tolol di depannya.
Min ho: ah? Oo,hahaha, iya ku tunggu. Jangan lupa bawa resepnya ya?
Saya: iya. Ehm, min ho….sehabis ini pulang atau kemana?
Min ho: hmm, biasanya aku pulang. Jam segini pun seharusnya aku sudah pulang. Tetapi aku menunggu seorang pasien yang menderita kanker otak. kata pak han wa, dia pasti akan datang setiap hari selasa jam 4 sore untuk menebus obat. Sekarang sudah jam 6… mungkin dia ada acara….
Yang dimaksud itu aku? Karena aku tau, aku satu-satunya pasien klinik ini yang menderita kanker otak. Aku selalu datang tepat di hari selasa jam 4 sore setelah aku menunggunyanya di kampus. Menunggu min ho maksudku.
Saya: ng, mungkin orang itu tidak akan datang. Sudah lama sekali kan? Ng, bagaimana kalau aku mentraktir kakak..eh, maksudku min ho, ke kedai bakpau di jalan baru? Kakak…eh, maksud ku min ho…mau tidak?
Hati ku berdegub kencang sekali. Seperti habis berolah raga. Ayo dong mau….ku mohon…. Doa ku sambil menutup mata.
Min ho: dalam rangka apa?
Saya: dalam rangka perkenalan dan tanda terima kasih karena kau sudah menolongku!
Jawabku sangat cepat sangking gugupnya aku.
Min ho: ng? ooh…kau ini jago nge-rap ya? Cepat sekali kau bicara..hahaha…ya, aku mau….
Saya: he? Yesss!!
Aku senyum-senyum sendiri. Dalam situasi ini, aku yakin aku terlihat sangat menyedihkan. Apalah arti semua ini kalau hanya sementara saja? Haaaah, impian mu terlalu panjang dan tinggi, shin ha.

Min ho mengunci pintu klinik.
Min ho: ayo…
Saya: aduuuuh….brrrrr…..dingin bangeeet….brrrrr…..
Min ho: kau tidak mempersiapkan syal mu? jangan bilang kau tidak tau malam ini akan turun salju?
Saya: a…aku tau kok. Aku tau akan turun hujan salju. Tapi, syal dan sarung tangan ku tertinggal.
Bohong deh. Sebenarnya aku tidak menonton acara ramalan cuaca karena kemarin malam aku tertidur di kamar mandi. Alias pingsan.
Min ho: astaga, kau ini anak yang pelupa ya? Kalau begitu pakai punya ku dulu.
Saya: eh, tidak usah. Terima kasih. Nanti kau kedinginan.
Min ho: tak apalah. Seorang dokter tidak bisa membiarkan orang yang sakit menderita. Ini pakai.
Aku memakai syal nya. Ya ampun, baru kali ini aku merasakan keberuntungan yang sangat membahagiakan. Haaaaah, semoga malam ini terus berlanjut sampai seterusnya.
Di kedai…
Min ho: coba daging ini….bumbu nya pas dan gizi-nya tinggi…kalau buat orang kanker pasti akan membaik.
Spontan aku langsung melahap daging tersebut. Aku ingin sembuh. Tau begitu aku akan mengkonsumsi ini setiap hari. Tiba-tiba aku tersedak.
Min ho: hei, makannya pelan2…ini minumnya…
Saya: puaaaah enak…kalau begini terus, sudah enak aku pun jadi sehat, ya kan?
Bego banget. Aku malah bertanya sesuatu yang bodoh.
Min ho: ng, kalau buat yang sakit usus buntu sih sepertinya efeknya biasa-biasa saja…
Fiuh. Untung tidak sadar. Kemudian aku kembali melahap makanan ku.
Min ho: hei shin ha, kau sekolah dimana?
Saya: ng? di SMA Chungdam.
Min ho: hah? Itukan jauh sekali dari sini. Memang tidak ada klinik lain di daerah sana?
Aku terus mengunyah.
Min ho: kalau begitu, kau tinggal dimana?
Saya: di apartemen chungdam.
Min ho: oh…tinggal dengan siapa?
Saya: sendiri.
Min ho: sungguh?! Kau sedang sakit begini bisa tinggal sendiri.
Saya: bisa lah.
Min ho: waah hebaat…aku salut pada mu. aku saja masih tinggal dengan orang tua. Jadi, kau kerja apa?
Saya: aku main saham dan bekerja di toko pakaian.
Min ho: huo? Keren sekali kau! Kecil-kecil begini sudah kerja seperti itu. eh, kapan2 ajari aku ya?
Saya: dengan senang hati!
Kataku dengan suara keras sampai-sampai semua orang menoleh kearah ku.
Min ho: ng, oke oke bisa diatur. Hei, kau sedang senang ya hari ini?
Uh, sangat! Aku mengangguk dan tersenyum centil.
Min ho: oh, haha….
Ya, sekali lagi aku terlihat bodoh.
Semakin larut malam, semakin tebal salju yang turun. Aku merasa kedinginan dan begah. Bukan kenyang melainkan pusing. Mungkin pengaruh bau minuman keras.
Min ho: aaah, kenyaaaaaang….terima kasih ya traktirannya? Lain kali gentian deh…haha…
Aku tersenyum dan meneguk air. Aku terbatuk dan mual.
Min ho: hei, kau tidak apa-apa?
Aku mengangguk. Tetapi dalam anggukan yang ketiga kali, aku muntah darah. Aku melihat semua orang terkejut dan menjauhi ku. Hanya min ho lah yang masih bertahan dan menahan ku. Aku sudah tidak kuat lagi. Kepala ku serasa di gebuk dan di gergaji. Nyeri dan sakit bukan main. Aku mendengar suara itu lagi. Suara gendang di telinga sebelah kanan ku. Aku menutup telinga ku dalam keadaan ku yang sudah payah. Aku masih merasa min ho menahan pundakku. Tenggorokkan ku terasa panas. Detak jantungku melemah. Aku bisa merasakan semua nya di waktu yang sama. Betapa aku menderita kalau penyakit ini tengah menyerang ku. Aku bernafas dan kemudian pingsan. Aku masih mendengar teriakan orang2 di kedai itu. aku masih merasakan min ho menggendong dan membawa ku lari entah kemana. Setelah itu semua sunyi. Yah, aku sudah biasa mendapatkan yang seperti ini. terkadang aku pasrah dan meminta Tuhan mengambil nyawa ku saja kalau sudah seperti ini.
To be continued…

KUAT = TIDAK LEMAH PART 1

Aku shin ha. Jun shin ha. Di dalam cerita ini, aku sebagai wanita yang sangat lemah. Masih seputar cinta, ya, di cerita ini aku menemukan seseorang yang bisa menjaga ku sampai tua dan mati. Aku menarik tetapi lemah. Aku baik tetapi lemah. Aku kuat tetapi lemah. Aku benar-benar butuh seseorang. Tetapi, ada yang tidak tau sebenarnya diri ku dalam cerita ini. Sebenarnya aku ini sangat kuat. Lihat saja nanti.

Aku , si penderita kanker otak. Setiap hari saat di sekolah, aku selalu pingsan dan batuk. Bukan batuk biasa, tetapi batuk berdarah. Bahkan sampai muntah. Kehidupan ku, ku rasa sebentar saja. Yah, begini2 juga aku nonton TV. banyakkan yang nyeritain kalau penyakit kanker berujung kematian. Pada saat masuk SMA, masa-masa yang paling menyenangkan bagi ku, eh, malah dapet penyakit ginian. Haha, di senengin aja lah.
Di sekolah….
Guru: tolong diam sebentar ya anak2! Ibu akan membagikan nilai ujian matematika kalian. Yang dipanggil maju kedepan.
Ibu guru memanggil satu-persatu teman-teman ku. Di saat giliran ku dipanggil…
Kim han: tidak usah kedepan. Aku saja yang ambilkan ya?
Saya: eh, tidak perlu….
Kim han berlari ke depan dan mengambil hasil ujian ku. Aaaah, aku tidak perlu di kasihani.
Kim han: ini. Nanti mau pulang bareng tidak?
Saya: sebentar. Ada yang salah dengan nilai ku…ng, nilai mu berapa kim?
Kim han: ehm, 90… ada apa memang dengan nilai mu?
Aku menggeleng dan bediri menuju ibu guru.
Saya: ibu, boleh pinjam pulpen yang biasa ibu pakai untuk memberi nilai?
Guru: ya, tentu. Ini. Memang nya kenapa?
Aku memberi tanda ‘X’ pada nilai ujian ku yang 80.
Guru: hei, kenapa shin? Kenapa kau mencoret nilai mu?
Tiba-tiba kelas menjadi sangat sunyi dan meperhatikan ku serta bu guru.
Saya: ibu, aku tidak menginginkan nilai palsu. Aku tau nilai ku hanya 35. Aku tidak butuh kenangan dan hadiah kematian… tolong lain kali ibu berikan aku nilai murni. Beritahu hal ini kepada guru yang lain juga ya bu. Aku mohon dan meminta tolong…. Terima kasih.
Ibu guru terpaku mendengar perkataan ku. Sebenarnya aku pun tak tega berbicara seperti itu. tetapi aku benci jika dikasihani.
Akhirnya aku bisa pulang juga karena pelajaran sudah selesai. Jadwal ku padat. Sehabis ini aku harus check up dan membeli persediaan obat-obatan ku yang mulai habis.
Ketika ingin keluar, seseorang memanggilku. Dia lah kim han.
Kim han: mau kemana? Jadi pulang bareng tidak?
Saya: tidak usah deh. Aku kan bisa pulang sendiri. Kau pulang saja kim.
Kim han: ah, jahat sekali menolak ajakan ku…
Saya: bukan begitu, aku ada urusan sedikit.
Kim han: dengan?
Saya: maaf, tapi kau tidak boleh tau…
Kim han: ooh, ya sudah kalau begitu. Benar nih tidak apa-apa jalan sendiri?
Aku tidak suka dikasihani. Aku menatapnya tanpa berkata-kata.
Kim han: oh, ya, maaf ya…aku tidak bermaksud menyebut mu lemah… kalau begitu hati-hati ya. Sampai besok shin ha. Daaaah….
Ia tersenyum dan pergi. Aku kembali meneruskan perjalanan ku.
Ditengah perjalanan. Aku teringat seseorang yang membuat ku rajin pergi ke klinik. Karena di dekat klinik ada sebuah universitas. Aku selalu menunggu seseorang itu keluar sebelum aku pergi ke klinik. Tentu agar aku bisa melihatnya. Sampai sekarang aku belum berani bertanya siapa namanya. Dia mempunyai kharisma yang tinggi. Aku ingin keajaiban. Setidaknya untuk dapat berkenalan dengannya.
Aku menunggu nya di luar gerbang universitas itu. lama sekali. Aku berdiri di siang bolong. Aku melihat matahari sangat dekat di wajahku. Fuuuuh, panas sekali. Tetapi lelaki itu belum muncul juga, padahal anak-anak yang lain sudah keluar dari tadi. Aku menunggu sampai berjam-jam. Tiba-tiba seseorang menunjukku. Aku kaget. Iya member isyarat kalau ada sesuatu di hidungku. Aku langsung memegang hidungku dan melihat jemari ku penuh darah. Aku mimisan. Tak lama setelah itu, aku merasa sangat pusing. Pusing nya menusuk-nusuk kepala ku. Aku memegang kepala ku. Sekeliling ku berkunang-kunang dan gelap. Sebelum aku pingsan dan jatuh, aku melihat lelaki yang ku tunggu-tunggu muncul dan sedang tertawa riang. Aku bersyukur masih sempat melihatnya. Kemudian orang-orang ramai mengerubungi ku. Seperti nya aku sudah pingsan.
To be continued…