Senin, 21 Juni 2010

nyahahahah, TAEMIN FANFIC PART 7

Aku tidak tau mengapa semuanya jadi begini. Kalau saja taemin tidak bertemu dengan ku, dia tidak akan sakit hati begini. Duh, mana omongan ku seperti nya parah sekali? Tidak tau ah.
Tidak lama kemudian sun hee, min hyun, dan sang woo datang. Aku tersenyum ketika melihat mereka masuk. Tetapi raut mereka tidak ada enaknya sama sekali.
Sun hee: ini! Kami bawakan kue Korea kesukaan mu!
Sun hee menaruh kue tersebut sambil dibanting. Aku mulai mencium kebusukan.
Saya: kalau tidak sudi ngasih ya tidak usah.
Min hyun: heh jalang, kau kira kau itu hebat ya? Sekarang rasakan kaki mu kesakitan…
Saya: jadi kalian dalang nya?
Sang woo: bukan sih. Tapi kami ikut senang! Kau sudah merebut TAEMIN KAMI!!! Itu tidak bisa di maafkan!!
Ya ampun, kelakuan orang Korea asli sama ya seperti di film nya. Berlebihan. Untung mereka bukan di Indonesia.
Saya: sudah selesai?
Min hyun: belum! Kami belum puas kalau kau belum menderita!
Sang woo: kami disini akan me… eh?
Aku mengambil pisau dari potongan buah. Aku menyeret pisau itu dari leher hingga perut min hyun karena dia yang paling dekat.
Saya: serem ya kalau pisau ini benar-benar menusuk tubuh kalian?
Semua terpaku. Tiba-tiba sun hee berani membuka mulut. Aku melempar pisau tersebut kearahnya dan sengaja ku buat meleset. Sun hee menangis.
Saya: jangan main-main kalau tidak mau celaka. Kalian mau bawa bandit kelas kakap, si jung hyo sekali pun aku tidak takut. Lebih baik kalian pulang. Aku sudah tau, akhirnya pasti sesuatu yang tidak jelas!
Sang woo: AWAS KAU DASAR TOLOL!!
Mereka keluar di iringi tangisan ketakutan sun hee. Ya ampun, aku benar-benar ingin pulang ke Negara ku. Di sini berlebihan sekali. Lebai, kata anak gaul. Sangking pusing nya, aku lahap saja kue pemberian mereka bertiga. Di tengah enaknya makan kue, aku tersedak. Tenggorokan ku menjadi sakit sekali. Perut ku juga jadi panas. Kenapa aku? Perut ku sakit sekali seperti di lilit dari dua arah. Aku mencoba minum tetapi aku muntahkan. Sebelum kalap, aku sempat memencet bel kamar beberapa kali.
Sebelum aku benar-benar tidak sadar, aku melihat seorang suster berlari kearah ku dan langsung memanggil dokter. Bagus. Hidup ku terselamatkan lagi.
Aku membuka mata ku dari kekosongan mimpi. Pandangan ku masih tidak bersahabat. Satu-satunya yang ingin aku tau, seseorang yang sedang berbicara dengan dokter. Itu ayahku? Ayah ku ya?
Ternyata bukan. Sama sekali bukan. Itu taemin.
Tiba-tiba dokter menghampiri ku.
Dokter: wah, sudah bangun? Bagaimana keadaan mu?
Saya: sehat.
Dokter: bagus. Maaf, kami hanya bisa menghubungi teman mu ini. Kami tidak punya nomor keluarga mu.
Saya: tidak apa pak, terima kasih. Ngomong-ngomong saya ini kenapa pak?
Dokter: biar teman mu ini yang menjelaskan. Saya permisi dulu.
Ck, kenapa harus dia lagi dia lagi sih???
Aku cuma diam sambil melihat kearah jendela. Aku malas bertanya ke taemin. Lalu taemin membuka mulut duluan.
Taemin: kenapa sih tidak memakan makanan yang ku beli? Tentu kau tidak akan seperti ini jadinya… kau tau tidak kau itu kenapa?
Aku menggeleng.
Taemin: haaah, kau tadi diracuni tau. Apakah teman-teman mu yang melakukan ini?
Saya: mereka bukan teman.
Taemin: kau tau, aku khawatir pada mu. Bolehkan aku menemani mu disini?
Saya: aku sudah jahat kenapa kau masih ada disini?
Taemin: aku tidak tau kenapa kau bisa berkata seperti itu tadi. dan aku bersedia diteriaki seperti anak SMA waktu itu, kalau seandainya itu kau… aku senang….
Saya: ? tidak mengerti.
Taemin: ah, dasar bodoh. Lupakan deh… hei, kenapa dia malah tidur…. Aduh…
Aku lemas. Seperti nya racun tadi berhasil membuatku benar-benar menderita.

Senja. Aku sudah bangun dan entah kenapa merasa ingin mencari taemin. Tiba-tiba ia datang membawa kompresan. Ia mengompresi ku dengan air hangat dan mulai berbicara.
Taemin: bagaimana keadaan mu? Masih sakit tidak perut mu? kau harus minum susu. Itu akan menetralisir racun di perut mu…
Saya: iya dok.
Taemin: aku serius. Kenapa sih kau sangat membenci ku?
Saya: aku tidak membenci mu. Aku benci kenapa kita harus bertemu. Aku tidak cocok bergaul dengan orang seperti mu.
Taemin: ah, tidak. Aku justru merasa cocok sekali…hahaha…
Saya: dari sisi mananya?
Tiba-tiba aku teringat kata-katanya waktu di meja makan. Cinta. Aku mual. Taemin memberikan ku ember.
Saya: ember?
Taemin: iya ember. Kenapa? Ayo muntah…
Saya: tidak jadi.
Taemin: kau harus mengeluarkan racun mu…
Saya: tidak jadi muntah.
Taemin: kenapa? Ember nya kurang bagus? Atau warna nya? Mau ku belikan ember baru?
Saya: heeh, apa sih, tidak segitunya. Aku hanya tidak jadi muntah saja. Soal ember, lupakan…
Taemin: nanti racun mu tidak keluar2… apa mau racun mu ku….
Saya: apa? Kau apakan?
Taemin: tidak jadi. Sensor.
? ye, aneh.
Saya: taemin…
Taemin: ng?
Saya: tidak jadi deh.
Taemin: kenapa tidak jadi terus? Aneh.
Saya: itu…
Taemin: apa?
Saya: itu…. yang di meja makan…
Taemin: meja makan apa?
Saya: aduh, bukan!
Taemin: lalu apa? Ember?
Saya: aduh! Bukan ember! Yang cinta2 itu lho…. Duh…
Akhirnya terlontar begitu saja.
Saya: tidak. Tidak usah di dengar perkataan ku tadi….
Taemin melihat ku.
Saya: ng, aku tidur lagi ya… ng, sampai nanti…
Aduuuh, bego!
To be continued…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar